4 Hal yang Harus Diperhatikan Agar Hubungan Ayah dan Anak Tidak Renggang

Orang tua dan anak terikat dalam hubungan darah yang sampai kapanpun enggak akan pernah terpisahkan. Tidak ada yang namanya mantan ayah, mantan ibu, atau mantan anak. Hingga saat ini, hubungan darah menjadi hubungan yang paling kuat di dunia ini. Bagaimanapun keadaannya, anak pasti membutuhkan kehadiran orang tua. Begitupun sebaliknya.

Meski demikian, hubungan orang tua dan anak juga bisa menjadi renggang. Terutama antara anak dan ayah. Dalam beberapa kasus, sering terlihat anak lebih dekat dengan ibunya dibandingkan ayah. Sifat ayah terkesan tegas, keras, dan cenderung kurang menunjukkan perhatian membuat anak semakin menjauh. Apabila keadaan ini dibiarkan begitu saja. lama-kelamaan anak bakal kehilangan rasa cintanya kepada ayah. Bahkan menganggap ayahnya sebagai sosok yang asing. Bahaya, kan?

Nah, berikut beberapa tips untuk mencegah kerenggangan hubungan ayah dan anak. Check it out!

1.    Menasehati anak? Berbicaralah secara serius tapi santai

Memang sudah selazimnya ayah bersikap tegas kepada anak-anaknya. Tapi ingat, tegas pun juga ada batasnya. Jangan berlebihan, apalagi sampai main tangan. Duh, jangan sampe deh! Bukannya nurut, yang ada anak malah menganggap anda sebagai orang tua yang jahat. Bahkan jika anda terus-menerus memukulnya (setiap kali anda marah), bukan tak mungkin anak ketakutan dan semakin menghindar dari anda.

Well, cobalah menjadi orang tua yang bijak. Jangan menjadikan anak layaknya “tawanan perang”. Apabila anak melakukan perbuatan yang salah, nasehati secara tegas tapi tetap santai. Buatlah keadaan senyaman mungkin. Sehingga anak bisa mengerti maksud dari nasehat anda, tanpa harus ketakutan.

2.    Berikan perhatian

Anda mungkin bosan mendengar saran yang satu ini. Yap “perhatian”. Sederhana sih, tapi sangat bermakna. Seorang anak pastilah membutuhkan perhatian, dan orang tua adalah sosok yang paling dekat mereka.

Biasanya ayah menunjukkan rasa cintanya dengan cara yang agak berbeda. Kebanyakan ayah cenderung cuek. Perhatiannya tidak ditunjukan lewat perbuatan, bisa jadi melalui doa. Tapi anak tetap butuh perhatian secara nyata. Jadi bagi para ayah, usahakan untuk memberikan perhatian seperti membelikannya oleh-oleh, mengajaknya liburan, atau menceritakan dongeng disaat waktu senggang.

3.    Didiklah anak sesuai zamannya

Jangan menyamakan jaman anda waktu masih kecil dengan jaman sekarang. Tentulah semuanya sudah berubah seiring berkembangnya teknologi.

Didiklah anak sesuai jamannya. Namun jangan mengajarkan hal-hal yang negatif, pilah yang baik saja. Misalnya, ketika anak ingin bermain sosmed, jangan dilarang tapi awasi. Saat anak ingin jalan-jalan dengan temanya, jangan dikekang tapi pantau pergaulannya. Cobalah memberikan kepercayaan kepada buah hati anda, biarkan ia melakukan apa yang disukainya, selama hal itu positif dan tidak bertentangan dengan nilai agama.

4.    Saling terbuka

Hubungan orang tua dan anak seharusnya saling terbuka, dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Disaat anak terlihat sedih, murung, atau sering marah-marah, cobalah mendekatinya. Tanyakan apakah ia memiliki masalah, katakan “ayah tidak marah, kok” lalu berusahalah menjadi teman curhatnya.

Apabila anak dan ayah bersikap saling terbuka, pasti hubungan terasa lebih santai. Selain itu, sikap mau mengakui kesalahan juga penting. Jika anda memang bersalah, akuilah.. Dan saat anak anda bersalah, hukumlah tapi dengan cara yang bijak. Intinya untuk mempertahankan hubungan harus ada komunikasi dari kedua belah pihak. Bila komunikasi saja jarang, gimana mau memperbaiki hubungan yang renggang? Enggak mungkin bisa! Jadi usahakan bersikap saling terbuka dan jaga komunikasi.


tips sehat anak bayi dan balita