Cara Mendidik Anak yang Keras Kepala dan Susah Diatur

Anak yang Keras Kepala dan Susah Diatur, bagaimana mendidiknya?
Setiap anak pasti memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Ada yang pendiam, ada yang hiperaktif, adapula yang keras kepala. Biasanya orang tua paling susah menghadapi anak yang mempunyai sifat keras kepala. Jika dinasehati secara halus tidak akan didengarkan,  jika dinasehati secara keras bakal ngambek, kalau dillarang pasti mengamuk, Yang jelas anak-anak dengan sifat keras kepala ini sulit untuk diatur.

Nah, berikut ini beberapa tips untuk mendidik anak yang keras kepala:

1.    Sifat anak adalah cerminan orang tua

Sebelum anda terlalu menyalahkan anak atau marah-marah “kenapa sih anakku kok keras kepala banget?!”, coba deh tengok terlebih dahulu diri anda. Bagaimana sikap anda saat dinasehati orang tua, apakah mendengarkan atau malah melawan. Bagaimana saat suami menasehati, apakah anda mematuhinya atau malah cuek?

Jika anda meang sering bersikap keras kepala, hati-hati watak anda tersebut ditiru oleh anak-anak. Ya, karena kita tahu bahwa anak adalah seorang peniru yang handal. Jadi jangan heran kalau sifat mereka menurun dari orang tuanya.

2.    Jangan memaksakan keinginannya

Tugas orang tua adalah mengarahkan, bukan memaksa anak untuk menjadi apa yang seperti mereka inginkan. Misalnya saja, anda memberikan les privat piano kepada anak anda, padahal dia enggak suka dan enggak punya bakat di musik. Tolong jangan dipaksain. Bila anda terus-menerus memaksanya, kondisi ini hanya akan membuat anak memberontak dan kesal. Bahkan memicu sifat amarahnya.

Berikanlah keinginannya. Bila ia suka bola, ijikan bermain futsal. Bila suka menggambar, anda bisa melatihnya untuk menjadi pelukis. Ingat, Yang terbaik bagi anak, kadang bukanlah yang terbaik bagi orang tua.

3.    Cari waktu yang tepat untuk menasehati

Menasehati seorang anak yang bersifat keras kepala tidaklah sama dengan menasehati anak yang penurut. Anda harus bisa mencari timing yang benar-benar tepat. Misalnya pada saat makan bersama, ketika hatinya merasa senang, atau bisa juga anda mengajaknya jalan-jalan bersama.

Selain timing, cara pengucapan juga penting. Sebaiknya jangan menasehati secara to the point atau blak-blakan. Coba nasehati dia lebih halus, misalnya anda berpura-pura curhat, lewat dongengan, atau candaan. Sehingga anak tidak merasa kalo ia sedang diperintah atau dikritik. Ia akan menganggap ucapan anda sebagai pesan moral yang harus dijalankan tanpa pemaksaaan. Teruslah memancingnya dengan nasehat-nasehat halus, lama-kelamaan sifatnya pasti akan berubah. Ya, tapi anda harus sabar!

4.    Tegas itu perlu, tapi jangan terlalu sering membentaknya

Well, percayalah membentak anak yang keras kepala tidak akan membuat hatinya jadi luluh. Semakin anda membentaknya, maka amarahnya akan semakin meluap-luap. Jika tidak ada yang mau mengalah, ya pasti bakal terjadi pertengkaran hebat.
Hindari kalimat-kalimat membentak, ganti dengan kalimat himbauan. Jangan menghinanya berlebihan, apalagi sampai mempermalukannya di depan umum. Itu bukanlah cara yang tepat untuk menasehati.

Misalnya anak anda malas mencuci piringnya sendiri. Jangan mengatakan, “Dasar pemalas, cuci piringmu sana!”, tapi katakan “Dek, mama masih capek. Kamu bisa kan cuci piring sendiri? Malu lho udah gede gak bisa nyuci piring” sambil iringi dengan senyuman.  Lebih enak didengarkan, bukan? Dengan demikian anak juga akan lebih semangat buat ngelakuin perintah dari anda.

Yawadah, sampai disini dulu tips-tips buat mendidik anak yang keras kepala. Semoga berhasil.

tips sehat anak bayi dan balita