Memukul Anak Bukanlah Cara Mendidik yang Baik. Inilah 6 Dampak Buruk yang Mungkin Terjadi!

melakukan kekerasan pada anak akan berdampak buruk
Setiap orang tua pasti mencintai anak-anaknya. Namun saat mereka kesal, terkadang tanpa sengaja mereka memukul dan menyakiti anaknya. Ya, anak memang tidak selamanya bisa bersikap manis dan menggemaskan. Adakalanya anak berperilaku buruk serta tidak menuruti perintah orang tuanya.

Melakukan tindak kekerasan fisik pada anak tentunya tidak baik. Selain menyakiti anak, hal ini juga bisa menimbulkan trauma. Yang lebih buruk lagi, bisa saja anak mencontoh perilaku kasar orang tuanya tersebut dan menerapkannya pada orang lain.

Lebih lengkapnya, berikut 6 alasan mengapa orang tua sebaiknya tidak melakukan kekerasan fisik pada anak:


1.      Bukannya sayang, anak malah semakin takut pada orang tua

Anggap saja kekerasan fisik bisa membuat seorang anak menjadi penurut dan taat pada perintah orang tua. Tapi hal tersebut juga menimbulkan dampak negatif, yaitu munculnya perasaan takut pada diri anak.

Mereka akan menuruti anda hanya karena takut, bukan karena rasa hormat. Lama-kelamaan, rasa takut itu semakin terakummulasi di dalam hati anak anda dan memicu kemarahannya. Tinggal menunggu waktu saja, hingga pada akhirnya dia akan memberontak lagi.

2.      Menyebabkan perilaku menyimpang di usia dewasa

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak yang sering dipukul cenderung memiliki perilaku menyimpang di usia dewasa. Anak menjadi lebih kasar, agresif, dan suka memukul.

3.      Anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri

Kekerasan fisik yang dilakukan terlalu sering juga bisa menimbulkan trauma bagi anak. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri dan cenderung mengasingkan diri dari lingkungannya.

Apabila orang tua memukul pada bagian tubuh sensitifnya, maka bisa membuat anak merasakan kenikmatan seksual yang dibarengi rasa sakit. Hal ini bisa berdampak buruk pada mentalnya, terutama jika anak kekurangan perhatian.

4.      Anak menjadi seorang pemarah

Pada awalnya, hukuman fisik mungkin bisa membuat anak-anak menjadi penurut. Namun lama-kelamaan kebiasaan tersebut bisa berubah jadi buah simalakama.

Saat anak beranjak remaja, mereka cenderung menjadi sosok yang mudah despresi. Mereka beranggapan bahwa orang tuanya tak terlalu menyayangi mereka. Jadi jangan heran kalau melihat anak-anak ini menjadi seseorang yang mudah marah.

5.      Anak berpikir bahwa memukul adalah solusi untuk menyelesaikan masalah

Anak adalah cerminan dari orang tuanya. Mereka akan belajar dan meniru perilaku dari ayah dan ibunya. Apabila orang tuanya suka memukul, maka anak berpikir bahwa memukul adalah salah satu cara untuk menyelesaikan masalah. Bahkan di saat ia merasa kesal, ia akan mengekspresikan perasaannya lewat memukul orang yang lebih lemah. Jika sudah seperti ini, bukannya menjadi pribadi yang baik. Anak malah menjadi nakal.

6.      Anak menganggap kekerasan fisik adalah tindakan wajar

Tindak kekerasan fisik tentu merupakan hal yang salah dan ilegal. Tapi apabila ini dilakukan secara terus-menerus oleh orang tua, maka anak akan menganggap kekerasan fisik adalah perbuatan yang wajar, boleh dilakukan dan merupakan tindakan yang dibenarkan.

Bayangkan saja, jika pikiran anak telah termindset seperti demikian maka bisa saja anak tumbuh menjadi orang yang berwatak keras dan punya belas kasihan. Ia tidak akan peduli ketika melihat seseorang yang disakiti. Cenderung cuek serta menutup diri.

Demikianlah beberapa dampak negatif yang ditimbulkan dari tindak kekerasan fisik orang tua pada anak. Pada dasarnya, mendidik anak dengan kekerasan hanya akan menimbulkan rasa takut dan trauma, tanpa adanya ikatan kasih sayang.

tips sehat anak bayi dan balita