Waspada! Inilah Bahaya Hipertensi Selama Masa Kehamilan

Darah tinggi seorang ibu hamil
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyakit degeneratif yang banyak diderita oleh masyarakat saat ini. Tekanan darah tinggi sendiri adalah kondisi kronis di mana tekanan darah pada dinding arteri atau pembuluh darah bersih meningkat. Hipertensi menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia.


Seorang ibu hamil yang menderita hipertensi juga berisiko menganggu kesehatan diri dan janinnya. Kondisi ini umum terjadi pada ibu hamil dengan persentase mencapai 10 persen. Apabila tidak ditangani dengan baik, hipertensi bisa menyebabkan kondisi praeklamsia yang disertai adanya protein dalam urine.


Macam-Macam Hipertensi yang dialami Ibu Hamil


Seorang wanita hamil dikatakan mengalami hiperten apabila tekanan darahnya di atas 140/90 mm Hg. Ada beberapa jenis hipertensi yang umum dialami wanita hamil, diantaranya sebagai berikut:



1.        Hipertensi kronik

Hipertensi kronik terjadi sebelum seorang wanita hamil, biasanya lima bulan sebelum masa kehamilan. Kondisi ini jarang terdiagnosis sebab tidak menunjukkan gejala yang signifikan. Apabila kondisi ini tidak segera diatasi hingga masa kehamilan, maka kondisi dapat berlanjut menjadi hipertensi kronik dengan praeklamsia, yaitu tidak ditemukannya protein di dalam urine.

2.      Hipertensi gestasional

Kondisi tekanan darah yang terus meningkat pada usia kehamilan hingga lima bulan menyebabkan hipertensi gestasional. Kondisi ini ditandai dengan tidak ditemukannya kandungan protein pada urine. Selain itu juga memicu terjadinya rusaknya organ-organ pada tubuh anda.

3.      Praeklamsia

Kondisi tekanan darah tinggi yang terlalu parah berpotensi menjadi Praeklamsia. Biasanya kondisi ini terjadi setelah lima bulan kehamilan. Apabila wanita hamil mengalami praeklamsia maka akan mengalami gejala berupa sakit kepala, nyeri perut bagian atas sebelah kanan, mual, muntah, sesak napas, penglihatan memudar, jumlah urine menurun, kadar trombosit menurun, dan berkurangnya fungsi kerja organ hati.



4.      Eklamsia

Ketika kondisi praeklamsia menjadi semakin parah hingga terjadi kejang-kejang, maka ibu hamil didiagnosis mengalami Eklamsia.

Dampak negatif ibu hamil yang menderita hipertensi



Apabila anda mengalami hipertensi pada masa kehamilan maka jangan disepelekan, sebab kondisi ini bisa memicu dampak negatif pada anda dan janin anda. Berikut beberapa bahaya dari hipertensi di masa kehamilan:

·         Terhambatnya pertumbuhan janin

Ibu hamil yang menderita hipertensi akan berimbas pada kondisi janinnya. Aliran darah ke plasenta menjadi terganggu, sehingga asupan oksigen dan nutrisi akan terhambat dan mempengaruhi pertumbuhan janin. Akibatnya bayi berisiko terlahir dengan berat badan rendah.

·         Bayi lahir prematur

Dikarenakan kekurangan asupan nutrisi, maka bayi berisiko lahir dalam kondisi prematur. Pada umumnya, dokter akan menyarankan proses persalinan melalui induksi atau operasi caesar. Hal ini dilakukan untuk mencegah eklamsia dan komplikasi lainnya.

·         Abrupsio plasenta

Hipertensi selama masa kehamilan juga memicu terjadinya abrupsio plasenta, yaitu kondisi terpisahna plasenta dari dinding dalam lahir sebelum proses kehamilan. Kondisi ini bisa menyebabkan plasenta rusak dan sang ibu akan mengalami pendarahan hebat. Jika hal ini terjadi, maka nyawa ibu dan bayi menjadi terancam.

·         Bayi meninggal dalam kandungan

Dalam tahap yang sangat parah, bayi berisiko meninggal dalam kandungan akibat kekurangan asupan nutrisi dan oksigen.

·         Penyakit kardiovaskular (Penyakit jantung dan pembuluh darah)

Apabila hipertensi telah mencapai tahap praeklamsia, maka sang ibu berisiko terkena penyakit kardiovaskular setelah melahirkan. Risiko ini akan meningkat jika ibu melahirkan secara prematur. Meski demikian, penyakit kardiovaskular bisa diminimalisasi dengan menerapkan gaya hidup sehat.


Untuk mengatasi kondisi hipertensi, sebaiknya ibu hamil jangan membeli obat secara sembarangan di apotek. Lebih baik anda berkonsultasi dengan dokter. Anda juga bisa mencegah dan mengatasi hipertensi dengan rutin berolahraga, mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak, mengonsumsi buah, sayuran, dan kurangi konsumsi makanan dengan kandungan tinggi garam.
tips sehat anak bayi dan balita