8 Penyakit dan Gangguan Di Masa Kehamilan yang Wajib Diwaspadai

8 Penyakit dan Gangguan Di Masa Kehamilan yang Wajib Diwaspadai
Ada begitu banyak tantangan selama masa kehamilan. Salah satunya berkaitan dengan kesehatan ibu hamil. Ketika seorang wanita mulai hamil, maka terjadi perubahan berkaitan dengan sistem kekebalan tubuhnya. Karena perubahan tersebut, ibu hamil menjadi lebih mudah terkena penyakit baik oleh infeksi virus maupun bakteri.

Berikut ini 8 penyakit dan gangguan yang berpotensi terjadi semasa kehamilan.


1.       Demam Tifoid

Penyakit deman tifoid disebabkan oleh infeksi kuman yang bernama Salmonella typhi. Kuman ini menginfeksi saluran cerna manusia. Orang yang terinfeksi kuman ini akan mengalami beberapa gejala yang cukup umum yakni demam yang terus meningkat, badan terasa tak enak, perut terasa tak nyaman, mual, perut terasa nyeri saat ditekan, sembelit ataupun diare, dan lidah berwarna kecokelatan-cokelatan.

Bila ibu hamil mengalami sebagian besar gejala-gejala demam tifoid ini, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan medis supaya langsung mendapatkan penanganan dokter. Jika tidak ditangani dengan tepat dan segera, deman tifoid bisa menyebabkan komplikasi seperti  perdarahan pada usus, kebocoran usus, penyebaran infeksi sampai ke paru-paru, ginjal, tulang, hati, dan otak sehingga menimbulkan radang otak.

Jika ibu hamil mengalami infeksi demam tifoid yang berat, maka resiko keguguran spontan dan resiko kematian mengintai. Infeksi demam tifoid ini bisa dicegah dengan menjaga kebersihan makanan dan minuman serta dengan mengikuti vaksinasi tifoid sebelum hamil.


2.       Hepatitis

Hepatitis atau peradangan pada hati dapat disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A, B, ataupun C. Meskipun menyebab virusnya berbeda, namun gejala yang ditimbulkan infeksi virus-virus ini hampir sama yakni sakit kepala, demam, tak enak badan, muntah, mual, nyeri di perut kanan atas, nyeri otot, dan warna urin yang mengalami perubahan menjadi lebih gelap. Serangkaian gejala-gejala tersebut biasanya berlangsung selama kurang lebih 4 hari sampai 7 hari. Kemudian muncul gejala lainnya yakni warna kekuningan di putih mata dan juga pada kulit, serta diikuti pembesaran hati. Gejala lanjutan ini terjadi sekitar 3 minggu sampai 6 minggu.

Hepatitis bisa dianggap sebagai penyakit ringat tetapi juga bisa menyebabkan kematian bila tak segera mendapatkan penanganan yang tepat terlebih jika dialami oleh ibu hamil. Jika ibu hamil terinfeksi pada trimester pertama, maka resiko yang mengancam adalah terjadinya keguguran. Sementara itu infeksi yang terjadi pada trimester kedua dan ketiga jika tidak segera diatasi bisa menyebabkan penularan infeksi ke bayi hingga bayi terlahir prematur.


3.       Tetanus

Tetanus disebabkan kuman yang bernama Clostridium tetani. Kuman ini biasanya tinggal di tempat dengan kadar oksigen rendah, misalnya saja di dalam tanah dan pada luka yang tertutup. Adapun jenis luka yang berisiko terinfeksi kuman ini antara lain luka yang kotor, luka yang terkena tanah, luka yang terkena benda berkarat, luka yang lebar dengan bentuk tak beraturan, luka tusuk, dan beberapa luka sejenis lainnya. Infeksi tetanus juga bisa terjadi waktu persalinan. Proses persalinan yang tidak bersih seperti peralatan yang tak steril berpotensi menyebabkan terjadinya infeksi tetanus.

Infeksi tetanus mengeluarkan racun yang mengenai saraf. Akibatnya otot-otot menjadi lumpuh dan kaku. Jika kekakuan mengenai otot pernafasan, maka bernafas menjadi sulit dilakukan sehingga bisa berujung pada kematian. Pada ibu hamil, masa inkubasi sering berlangsung lebih cepat dan kondisi ini bisa membahayakn ibu hamil dan janin dalam kandungannya.


Untuk mencegah infeksi tetanus, ibu hamil bisa mendapatkan vaksinasi TT . Vaksinasi ini diberikan sebanyak tiga kali yakni saat usia kehamilan masih muda dan sebulan kemudian. Selain pembelian vaksinasi, bila ibu hamil terluka sebaiknya lakukan perawatan agar luka benar-benar bersih. Membersihkan luka bisa dilakukan dengan menggunakan antiseptik. Jika diperlukan, pemberian suntikan serum antitetanus serta vaksinasi TT (tetanus toksoid) bisa dilakukan.


4.       Sindrom HELLP

Sindrom HELLP, H (Hemolysis atau hancurnya sel darah merah), EL (Elevated Liver-enzymes atau  peningkatan enzim hati) dan LP (Low Platelet-count atau trombosit rendah) adalah komplikasi kehamilan yang dapat mengancam jiwa ibu hamil dan juga janin. Sindrom ini umumnya terjadi pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu atau ketika masuk trimester kedua dan juga setelah melahirkan.


Sindrom HELLP dikenali sebagai preeklamsia berat. Sindrom ini ditandai dengan tekanan darah tinggi, naiknya kadar protein dalam urin, sakit kepala, mual, muntah, rasa sakit sesudah makan, nyeri di bagian dada ketika bernafas dalam, mata berkunang-kunang, kejang, terjadinya pendarahan, pembengkakan kaki dan tangan serta di beberapa bagian tubuh lainnya.


Ibu hamil yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi, stroke, dan gangguan hati, mempunyai risiko lebih tinggi terkena preeklamsia yang mengarah pada sindrom HELLP. Jika sindrom HELLP membuat tekanan darah ibu hamil melonjak tinggi, maka langkah untuk menyelamatkan nyawa ibu dan janin adalah dengan segera mengeluarkan janin. Cara lain yang bisa ditempuh adalah dengan melakukan tranfusi darah dan pengobatan untuk memperkuat paru-paru janin.


Sindrom HELLP bisa dicegah dengan menjaga kesehatan tubuh selama kehamilan, mengurangi konsumsi garam, mengurangi makanan berlemak tinggi, banyak bergerak, cukup istirahat, kontrol rutin ke dokter kandungan, menyampaikan pada dokter tentang riwayat kesehatan keluarga yang berkaitan dengan komplikasi kehamilan, seperti preeklamsia, HELLP, dan gangguan hipertensi lainnya, mengenali gejala sindrom HELPP, dan segera memeriksakan diri ke dokter ketika merasana insting sesuatu yang tak wajar.


5.       Sindrom ACA

Sindrom ACA atau Anticardiolipin merupakan salah satu penyebab  wanita sulit hamil atau jika hamil lantas mengalami keguguran berulang. Sindrom ini tak lain adalah sindrom kelainan pengentalan darah. Untuk memastikannya, kaum wanita bisa menjalani tes ACA. Pada ibu hamil, sindrom ini biasanya menimbulkan beberapa gejala seperti cepat lelah, sering pusing, mengantuk dan kesulitan untuk berkonsentrasi. Gejala-gejala ini biasanya berlangsung terus selama kehamilan.


Wanita hamil yang mengalami sindrom ACA ini sebaiknya secara rutinn ke dokter kandungan agar perkembangan janin terpantau dan juga ke dokter ahli penyakit dalam untuk memantau kondisi darahnya. Sindrom ACA ini bisa ditangani dengan pemberian obat ataupun pemberian obat yang disertai dengan suntikan heparin atau fraksiparin yang dilakukan setiap hari. Suntikan ini cukup aman karena tak menembus plasenta sehingga tak terserap janin. Selain itu, ibu hamil juga disarankan untuk tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung pengawet dan penyedap, memperbanyak minum air putih, tidur minimal 8 jam sehari, cukup istirahat dan menghindari stres.

Jika tidak ditangani, sindrom ACA dapat menyebabkan janin gugur usia 8 minggu. Keadaan ini tak lain disebabkan suplai darah ibu yang membawa nutrisi dan oksigen melalui plasenta tidak lancar. Bila janin bisa bertahan, biasanya janin akan lahir prematur, lahir dengan berat badan rendah, meninggal di kandungan atau meninggal begitu dilahirkan.


6.       Penyakit gigi dan gusi

Banyak kaum wanita yang meremehkan penyakit gigi dan juga gusi. Padahal penyaki ini bisa meningkatkan resiko bayi lahir prematur atau lahir dengan berat badan rendah. Kondisi tersebut terjadi tak lain dikarenakan bakteri pada mulut mengganggu kerja hormon dan juga mengganggu asupan nutrisi yang dibutuhkan janin.

Bakteri gigi dan gusu juga dapat mengganggu produksi hormon oksitosin. Hormon ini berfungsi merangsang kontraksi di dinding rahim untuk memudahkan proses kelahiran. Bila hormon tersebut diproduksi lebih cepat sebelum waktunya, maka bayi akan lahir prematur dengan berat badan yang rendah. Karena itulah pemeriksaan kesehatan gigi dan gusi disarankan untuk dilakukan sejak merencanakan kehamilan lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan di bulan kedua dan bulan kedelapan kehamilan.


Ibu hamil dengan gigi dan mulut yang sehat bisa menurunkan resiko pre-eklamsia atau keracunan kehamilan 5% hingga 8%. Sedangkan membersihan karang gigi dan perawatan kesehatan gusi bisa mengurangi resiko bayi lahir prematur sampai 50%serta mengurangi resiko bayi lahir prematur dengan berat badan rendah sampai dengan 57%. Untuk menjaga bakteri di mulut tak berkembang, ibu hamil disarankan mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis di awal kehamilan.


7.       Anemia

Anemia pada ibu hamil disebabkan karena ketidakseimbangan antara kebutuhan zat besi yang mengalami peningkatan dengan asupan yang kurang. Selama masa kehamilan, ibu hamil membutuhkan zat besi sebanyak 1000mg. Dalam banyak  kehamilan seringkali asupan zat besi dari makanan tak mamppu memenuhi kebutuhan. Padahal zat besi ini dibutuhkan untuk meningkatkan volume darah, massa jaringan tubuh dan mendukung pertumbuhan janin.


Keadaan anemia pada ibu hamil berdampak pada ibu dan bayi yakni meningkatkan resiko bayi dengan gangguan pernapasan, bayi dengan berat badan rendah, keguguran, bayi lahir prematur, pendarahan, infeksi sampai dengan resiko yang terburuk yakni kematian ibu dan bayi. Anemia bisa diatasi dengan memperbaiki pola makan yakni dengan mengkonsumsi beberapa jenis makanan seperti hati, daging, sayur, buah, serealia, dan kacang-kacangan.


8.       Hiperemesis Gravidarum

Kondisi Hiperemesis Gravidarum lebih dikenal sebagai kondisi mual dan muntah yang berlebihan. Biasanya hal ini dialami ibu hamil ketika usia kehamilan 8 minggu sampai dengan 12 minggu. Sesungguhnya seiring bertambahnya usia kehamilan, keluhan ini semain berkurang dan akhirnya berhenti saat usia kehamilan memasuki usia 16 minggu. Namun sebagian ibu hamil ada yang mengalami ini hingga trimester 3. Kondisi dengan kategori yang berat ditandai dengan mual dan muntah yang dialami ibu hamil setiap kali makan atau minum. Akibatnya, ibu hamil akan merasa lemas, pucat, dan frekuensi buang air kecil menurun. Jika dibiarkan saja, tentulah kondisi ini berisiko mengganggu kesehatan ibu dan juga janin.

Kondisi Hiperemesis Gravidarum bisa disiasati dengan mengatur pola makan dengan gizi yang seimbang. Ibu hamil bisa memilih makanan dengan kandungan karbohidrat tinggi untuk mengganti energi yang terbuang akibat muntah. Selain itu, ibu hamil juga bisa mengkonsumsi makanan dan minuman dengan kadar air tinggi seperti buah dan sayuran. Ibu hamil sebaiknya makan dengan porsi kecil namun dengan lebih sering. Konsumsilah makanan kering seperti biskuit supaya asam lambung bisa terserap. Jauhi makanan-makanan yang bisa memicu mual seperti makanan yang berlemak dan berbumbu tajam.


Nah, itulah setidaknya 8 penyakit dan gangguan kehamilan yang beresiko terjadi pada wanita yang sedang hamil. Dengan mengetahui gangguan-gangguan tersebut diharapkan wanita hamil bisa menjadi lebih waspada dan tidak menganggap remeh keluhan-keluhan tak biasa yang dirasakannya. Jangan ragu-ragu untuk segera memeriksakan diri ke dokter agar segera bisa dilakukan langkah penanganan yang tepat.
tips sehat anak bayi dan balita