Golden Age, Masa Usia Emas Penentu Masa Depan Anak

masa usia emas anak penentu masa depan
Para orangtua tentunya ingin agar anak-anak mereka tumbuh sehat dan juga berkembang dengan baik. Karena itulah setiap orangtua wajib memperhatikan tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan hingga anak dewasa. Orangtua tak boleh merasa cepat puas dengan pertumbuhan fisik saja. Tak hanya berat badan dan tinggi badan saja yang perlu diperhatikan, namun kemampuan motorik halus dan kasar, kemampuan anak dalam berbicara, kognitif dan perilaku sosial perlu memperoleh perhatian yang sama pula.

Dalam perkembangan anak inilah dikenal suatu fase penting yakni fase emas atau lebih dikenal dengan istilah golden age. Apakah Anda sebagai orangtua sudah memahami mengenai fase ini?

Mengenal Fase Golden Age

Golden Age atau fase emas adalah fase saat otak anak mengalami perkembangan yang paling cepat dalam masa pertumbuhannya. Kurang lebih 80% otak anak mengalami perkembangan pada usia 0-6 tahun. Usia inilah yang disebut sebagai fase golden age atau fase emas tumbuh kembang anak. Pada masa ini, setiap informasi akan diserap anak baik berupa informasi yang baik maupun yang buruk dan akan menjadi dasar terbentuknya karakter, kepribadian, serta kemampuan kognitif.

Karena itulah fase golden age menjadi fase terpenting bagi perkembangan anak. Pada fase ini pula berlangsung kematangan fungsi fisik dan psikis yang siap memberi respon pada stimulasi-stimulasi yang diberikan oleh lingkungan di sekitarnya.

Fase ini pula yang menjadi fase dasar untuk mengembangkan kemampuan kognitif pada anak begitu pula dengan kemampuan motorik, sosio emosional, bahasa, agama dan juga moralnya. Begitu pentingnya fase golden age ini, maka orangtua dituntut untuk memberikan pengalaman yang bermanfaat bagi anak-anak, memberikan pendidikan, memberi stimulasi dengan maksimal dan mengenalkan pada berbagai aktivitas yang diminati.

Peran Orangtua

Dalam penelitian mengenai perkembangan anak ditemukan bahwa pada tahun pertama kehidupan seorang anak merupakan masa paling penting dalam kehidupannya. Masa ini akan menentukan kondisi anak saat dewasa seperti kemampuannya untuk menghadapi tantangan, semangat belajar yang dimilikinya dan pencapaian dalam pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya.

Mengingat begitu pentingnya fase golden age, maka peran orangtua sangat dibutuhkan. Kesuksesan tumbuh kembang anak di fase golden age sangat bergantung pada keadaan rumah, sekolah, dan lingkungan di sekitarnya. Orangtua perlu menggali, mendorong dan membantu  mengembangkan potensi anak usia dini.

Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para orangtua meliputi:

·         Mengenali potensi anak usia dini atau di fase golden age
·         Mengarahkan anak sesuai minat dan bakat yang disukainya
·         Mengenali anak melalui kepribadiannya
·         Memberikan pujian pada anak
·         Menciptakan suasana tenang di lingkungan sekitar anak
·         Melibatkan anak dalam berbagai kegiatan minat dan bakat
·         Memberikan perhatian pada anak dengan optimal
·         Memberikan dukungan pada anak
·         Memberikan stimulasi yang tepat pada anak
·         Mengajarkan anak berkreasi
·         Mendorong anak untuk terus belajar
·         Menghargai bentuk-bentuk dan potensi yang ada pada anak anak. Sikap orangtua yang menyenangkan dapat semakin memotivasi anak untuk berkarya dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.

Mengenali Gangguan Tumbuh Kembang Anak

Para orangtua yang sudah memahami mengenai fase golden age tentu akan memperhatikan tumbuh kembang anak dengan optimal. Sayangnya, hal ini tak bisa dilakukan oleh para orangtua yang bekerja. Karena itulah seringkali anak-anak mengalami kekurangan stimulasi dan terjadilah gangguan sensorik motorik.
Memantau tumbuh kembang anak di fase golden age sangat penting dilakukan agar para orangtua bisa mendeteksi sejak awal bila terjadi gangguan sensorik motorik pada anak. Berikut ini beberapa gangguan tumbuh kembang anak yang bisa diamati oleh para orangtua pada fase golden age.

·         Pada usia enam bulan, anak tidak menampakkan interaksi sosial. Atau pada anak dengan usia yang lebih besar, terlihat kecenderungannya yang tak bisa berinteraksi dengan teman-temannya.
·         Gangguan motorik kasar antara lain ditandai dengan anak yang belum bisa berguling ketika usia 5 bulan, anak belum bisa mengontrol kepala pada usia 6-7 bulan, anak belum bisa duduk dalam posisi tegak di lantai selama kurang lebih 5-10 menit saat berusia 10-12 bulan, anak belum bisa merangkak dan belum bisa ditarik ke posisi berdiri saat usianya mencapai 12-13 bulan, dan anak belum berjalan sendiri atau dituntun saat usianya 18-21 bulan.
·         Sedangkan gangguan motorik halus bisa ditandai dengan anak yang tak bisa memegang benda yang diletakkan di tangannya saat usianya sudah 4-5 bulan, anak yang tetap mengepalkan tangan hingga usia 4-5 bulan, anak yang tak bisa memegang benda dengan menggunakan satu tangan pada usia 7 bulan, anak tak bisa memindahkan benda kecil ke dalam gelas ketika usianya mencapai usia 6-7 bulan, anak tak mampu menyusun tiga kubus saat usianya mencapai 2 tahun, dan anak yang tetap memasukkan benda ke mulut disertai dengan keluarnya air liur hingga usianya 2 tahun.
·         Gangguan bicara pada anak ditandai dengan mata yang tidak melirik dan kepala yang tidak menoleh ke arah sumber suara ketika usianya mencapai 6 bulan, tak merespons terhadap panggilan namanya saat usianya sudah 10 bulan, tak memahami kata-kata padahal usianya sudah 15 bulan, tak  bisa mengucapkan sepuluh kata saat usianya 18 bulan, tak memberikan respon atas perintah kemari, berdiri atau duduk ketika usianya sudah 21 bulan, tak bisa menunjukkan atau menyebut bagian-bagian pada tubuh saat usianya menginjak 24 bulan, tak menunjukkan mimik yang baik pada usia 12 bulan, tidak berkata-kata saat berusia 16 bulan dan tak mengeluarkan setidaknya dua kata spontan di usia 2 tahun.
·         Gangguan interaksi sosial pada anak ditandai dengan tak ditemukannya senyum sosial di wajah anak saat mencapai usia 3 bulan, anak yang tak tertawa di usia 6-8 bulan saat diajak bermain, anak yang tak suka dipeluk atau didekati saat berusia 12 bulan, anak yang tak melakukan kontak mata dan mudah sekali mengamuk tanpa sebab di usia 24 bulan, dan anak yang tak disiplin serta menolak bermain dengan anak lain saat usianya sudah 3 tahun hingga 5 tahun.
·         Sementara itu gangguan kognitif ditandai dengan anak yang tak tertarik pada wajah sang ibu ketika berusia 2-3 bulan, anak yang tak mencari benda yang terjatuh pada usia 6-7 bulan, anak yang tak tertarik dengan permainan ciluk ba di usia 8-9 bulan, anak yang tak berusaha mencari benda-benda yang disembunyikan pada usia 12 bulan, anak yang tak mampu mengelompokkan benda-benda yang mempunyai kesamaan saat usianya sudah 2 tahun, anak yang tak bisa menyebut namanya sendiri di usia 3 tahun, anak yang tak mampu berhitung dengan benar di usia 4 tahun, anak yang tak mengenali warna di usia 5 tahun, dan anak yang tak mengetahui hari kelahiran serta alamatnya di usia 5,5 tahun.

Bila para orangtua menemukan beberapa gangguan tersebut pada masa golden age, maka sebaiknya segera lakukan langkah untuk mengatasinya. Segera lakukan langkah penanganan, misalnya saja dengan memberikan stimulasi yang lebih terfokus ataupun terapi dengan tenaga medis yang berpengalaman di bidangnya.
tips sehat anak bayi dan balita