Pentingnya Imunisasi Hepatitis B Begitu Bayi Lahir

imunisasi hepatitis B sejak bayi lahir
Hepatitis B merupakan salah satu penyakit yang bisa ditularkan ibu kepada bayinya. Dari para ibu yang menderita hepatitis B, tak kurang dari 90% dapat tertular hepatitis B dan menjadi karier kronis hepatitis B. Virus hepatitis B yang bersarang di tubuh bayi dalam kurun waktu sekitar 10 tahun hingga 20 tahun bisa menimbulkan pengerasan pada hati dan bahkan memicu kanker. Namun kondisi ini bisa dicegah dengan memberikan imunisasi hepatitis B begitu bayi lahir.

Apa Itu Hepatitis B?

Hepatitis B adalah penyakit yang menyerang organ hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Virus ini jika dibiarkan berkembang dalam tubuh manusia bisa menyebabkan terjadinya peradangan hati akut. Pada sebagian kecil kasus, penyakit hepatitis B ini bisa berkembang menjadi sirosis hati dan juga kanker hati. Di Indonesia, infeksi hepatitis B ini juga dikenal dengan sebutan sakit kuning atau sakit liver.

Virus hepatitis B bisa ditularkan kepada orang lain melalui cairan tubuh penderitanya, seperti melalui darah, cairan dari organ intim kewanitaan dan juga dari air mani. Peralatan-peralatan sederhana di rumah bisa menjadi media penularan, misalnya saja pisau cukur, gunting kuku dan sikat gigi. Penularan rentan terjadi dari peralatan tersebut karena ada kemungkinan terjadi kontak darah.

Pada bayi, penularan terjadi di ketika persalinan atau sesaat setelah persalinan dari sang ibu yang sudah terinfeksi virus hepatitis B. Kasus penularan hepatitis B ini memang kerap terjadi karena biasanya banyak orang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi virus hepatitis B. Jika keadaannya sudah parah, barulah seseorang menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi virus hepatitis B. Untuk memastikan adanya penyakit ini, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium yakni pemeriksaan Anti-HBs.

Pemberian Imunisasi Pada Bayi Baru Lahir

Resiko penularan pada bayi baru lahir bisa dihindari dengan memberikan imunisasi hepatitis B begitu bayi lahir. Pemberian vaksin ini harus secepatnya atau kurang dari 24 jam sesudah bayi dilahirkan atau maksimal 12 jam setelah dilahirkan. Pemberian imunisasi ini dilakukan bersamaan dengan HBIG yakni di paha kiri dan di paha kanan. Sebelum diberi vaksin, bayi akan diberi vitamin K untuk mencegah terjadinya pendarahan pasca imunisasi. Hal ini dimaksudkan agar virus hepatitis B belum sempat menginfeksi bayi.

Lantas apa bedanya hepatitis B atau sakit kuning dan kondisi kuning pada bayi? Seperti telah dijelaskan, penyakit hepatitis B berkembang dengan sangat lambat dan seringkali tidak menunjukkan gejala apapun sebelum benar-benar parah. Karena itulah bayi yang tertular hepatitis B dari sang ibu juga tidak menunjukkan gejala-gejala yang mudah dikenali.

Sedangkan kondisi kuning pada bayi merupakan keadaan munculnya warna kuning pada kulit bayi dan pada jaringan tubuh lainnya. Kondisi ini sebenarnya tidak perlu dikuatirkan, sebab biasanya terjadi pada 60% bayi sehat. Tetapi kondisi bayi kuning harus tetap mendapatkan pengawasan. Sebab jika terjadi peningkatan kadar bilirubin yang terlampau tinggi, maka beresiko menyebabkan kecacatan dan bisa mengancam keselamatan jiwa bayi.

Bilirubin tak lain adalah hasil penguraian sel-sel darah merah. Kondisi bayi kuning terjadi jika kadar bilirubin mencapai lebih dari 5 mg/dL. Untuk bayi yang baru lahir, kadar bilirubin masih dianggap normal hingga 12 mg/dL. Pada kondisi bayi kuning, bayi hanya perlu diberi ASI dan dijemur di pagi hari serta terus dipantau kadar bilirubinnya.

Nah, itulah penjelasan singkat mengenai penyakit hepatitis B atau sakit kuning dan pentingnya memberikan imunisasi hepatitis B pada bayi. Dengan penjelasan ini diharapkan para ibu menjadi lebih waspada dan tidak salah dalam memahami hepatitis B atau sakit kuning dan kondisi kuning pada bayi.
tips sehat anak bayi dan balita