Inilah Beda Inseminasi dan Bayi Tabung

 Inilah Beda Inseminasi buatan dan Bayi Tabung
Sebagian pasangan suami istri harus menghadapi kenyataan begitu sulit untuk mendapatkan keturunan. Penyebabnya bisa dikarenakan permasalah pada kesehatan reproduksi istri atau suami maupun keduanya. Namun seiring perkembangan teknologi, peluang untuk mendapatkan keturunan semakin terbuka lebar. Pasangan-pasangan yang sulit memiliki keturunan disarankan untuk mencoba metode inseminasi dan bayi tabung. Nah, apakah sebenarnya beda inseminasi dan bayi tabung ini?

Bagi pasangan suami istri yang berencana untuk mengikuti program khusus untuk hamil, sebaiknya ketahui dulu tentang kedua metode tersebut. Informasi yang cukup tentu akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai prosedur dan peluang kedua metode itu. Untuk itu simak penjelasannya berikut ini.

Metode Inseminasi

Secara sederhana, metode inseminasi buatan atau IUI (Intrauterine Insemination) merupakan metode pembuahan yang dilakukan dengan cara memasukkan sperma ke dalam rahim. Untuk mengikuti metode ini, pasangan suami istri biasanya sudah mulai melakukan program sejak 4 minggu hingga 6 minggu sebelum waktu inseminasi dilakukan. Untuk mengawali program ini, seorang wanita akan diberi pil hormonal yang berfungsi untuk menstimulasi ovulasi.

Selanjutnya pada jadwal inseminasi yang sudah ditetapkan, pasangannya akan diminta untuk mengeluarkan sperma. Sperma pria dikeluarkan dengan cara masturbasi tanpa bantuan apapun sehingga sperma tidak terkontaminasi bahan-bahan kimia. Selanjutnya seorang dokter spesialis akan mencuci dan menyeleksi sperma tersebut untuk mendapatkan sperma-sperma yang terbaik saja. Proses ini biasanya berlangsung sekitar 1 jam hingga 2 jam.

Pada hari yang sama, sperma-sperma terbaik yang sudah dipilih tersebut dimasukkan ke dalam rahim dengan bantuan kateter. Proses ini berlangsung sangat singkat. Sesudah itu sang wanita akan diminta untuk berbaring dengan posisi terlentang selama kurang lebih 15 menit. Tujuannya tak lain untuk memudahkan sperma mencapai sel telur. Barulah setelah itu pasangan suami istri diperbolehkan untuk pulang.

Selanjutnya pasangan suami istri harus menunggu selama kurang lebih 17 hari setelah proses insemninasi dilakukan. Sesudah 17 hari barulah bisa diketahui apakah terjadi pembuahan atau tidak. Pemeriksaan darah biasanya akan dilakukan untuk memastikan hal tersebut. Jika ternyata hasilnya gagal, maka pasangan suami istri bisa mencoba untuk melakukan program inseminasi lagi hingga empat kali. Bila tak kunjung berhasil, maka program selanjutnya bisa dicoba yakni dengan metode bayi tabung.

Faktor kegagalan pada metode inseminasi buatan bisa dikarenakan usia calon ibu. Pada seorang wanita, semakin tua usianya maka kualitas telur yang dihasilkan setiap bulannya pun semakin buruk pula. Kegagalan juga bisa disebabkan adanya kerusakan pada saluran tuba falopi dan juga kondisi endometriosis.

Metode Bayi Tabung

Sementara itu metode bayi tabung atau IVF (In Vitro Vertilization) adalah metode pembuahan sel telur dan sperma yang dilakukan di luar rahim. Inilah beda inseminasi dan bayi tabung. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa pada metode inseminasi pembuahan dilakukan di dalam rahim. Sedangkan pada metode bayi tabung, pembuahan dilakukan di luar tubuh sang calon ibu. Lalu bagaimana hal tersebut bisa dilakukan?

Metode bayi tabung atau IVF ini prosedurnya lebih panjang ketimbang metode inseminasi. Pada tahapan yang pertama, pasangan suami istri akan diseleksi terlebih dahulu untuk memastikan kelayakan dan kesiapannya. Kelayakan dan kesiapan ini dipertimbangkan dari berbagai segi, mulai dari segi kesehatan, segi emosi dan juga segi finansial.

Jika sudah dinilai layak dan siap, maka calon ibu akan diberi stimulasi agar bisa menghasilkan telur yang cukup banyak. Dalam metode bayi tabung ini, sel telur yang dibutuhkan berjumlah lebih dari satu sel telur agar peluang keberhasilannya lebih besar.

Sesudah itu, dokter akan terus melakukan pemantauan terhadap cairan yang berisi sel telur atau yang disebut folikokel dengan menggunakan peralatan USG. Pemantauan ini dilakukan untuk mengetahui jika sel telur sudah matang dan siap untuk diambil. Sel telur yang sudah matang selanjutnya diambil lalu diproses di laboratorium.

Pria sebagai pasangannya juga diminta untuk mengeluarkan sperma dengan cara masturbasi. Sama seperti pada metode inseminasi, dilakukan seleksi untuk memilih sperma yang terbaik. Selanjutnya sel telur tersebut akan dibuahi oleh sperma pilihan dengan medium berupa cairan.

Nantinya jika embrio sudah berhasil terbentuk, barulah embrio tersebut ditanamkan pada rahim dan diharapkan bisa berkembang menjadi janin yang sehat. Setelah embrio dimasukkan ke dalam rahim, sang calon ibu masih harus diberi obat-obatan agar bisa membantu dinding rahim lebih kuat sehingga peluang terjadinya kehamilan lebih besar.

Dalam proses tersebut, bisa jadi didapatkan jumlah embrio yang lebih karena banyaknya jumlah sel telur yang diambil. Jika hal ini terjadi, maka dokter akan menyimpan atau membekukan embrio tersebut. Bila proses bayi tabung yang pertama ini gagal dilakukan, maka embrio yang dibekukan bisa ditanam ke dalam rahim. Namun jika kehamilan terjadi, maka embrio akan tetap dibekukan untuk kehamilan berikutnya.

Metode Inseminasi dan Bayi Tabung

Dari penjelasan tersebut, kini Anda tentunya sudah lebih memahami tentang metode inseminasi dan metode bayi tabung. Khususnya dari segi biaya, bayi tabung dengan proses yang begitu panjang tentunya membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan inseminasi. Biaya inseminasi berkisar antara 5 juta hingga 7 juta rupiah, sedangkan biaya bayi tabung bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Mengingat biaya yang tidak sedikit untuk menjalani program bayi tabung, maka pasangan suami istri diharapkan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk menjalani program ini. Misalnya saja dengan mengkonsumsi makanan yang kaya nutrisi, istirahat dengan cukup, mengkonsumsi air putih dalam jumlah yang cukup, menurunkan berat badan yang berlebihan, serta menghindari rokok dan alkohol.

Saat ini untuk mengikuti program bayi tabung tidak perlu lagi pergi ke luar negeri. Sebab ada banyak rumah sakit besar di Indonesia yang sudah mampu menangani program bayi tabung dengan angka keberhasilan yang tinggi. Contohnya saja di Klinik Permata Hati Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta, Klinik Yasmin RSCM di Jakarta Pusat, Rumah Sakit Siloam Surabaya, Aster Fertility Clinic RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dan beberapa rumah sakit lainnya di kota-kota besar di Indonesia. Sedangkan untuk metode inseminasi, klinik-klinik tersebut biasanya juga mampu menanganinya.

Karena proses yang digunakan memiliki perbedaan, peluang keberhasilan terjadinya kehamilan lebih tinggi dengan menggunakan metode bayi tabung. Wanita dengan usia di bawah 35 tahun memiliki peluang keberhasilan mengikuti program inseminasi sebesar 10% hingga 15%. Presentase ini semakin menurun seiring bertambahnya usia seorang wanita. Sedangkan pada metode bayi tabung, peluang keberhasilannya lebih tinggi yakni mencapai 40% hingga 45%.

Karena itulah untuk pasangan suami istri dengan usia istri di atas 35 tahun, disarankan untuk memilih metode bayi tabung. Dengan memahami beda inseminasi dan bayi tabung mulai dari proses dan tingkat keberhasilannya, diharapkan pasangan suami istri yang hendak mengikuti program hamil bisa menjatuhkan pilihan dengan tepat.

tips sehat anak bayi dan balita