Menjaga Keperawanan Sebelum Menikah, pentingkah?

menjaga keperawanan sebelum menikah
Pada era modern dan globalisasi seperti sekarang ini, seks bebas adalah hal yang sudah dianggap biasa oleh semua orang. Maraknya seks bebas tentu saja membuat anggapan kalau banyak wanita yang kehilangan keperawanan mereka sebelum resmi menikah. Bahkan ketika dilakukan sedikit wawancara, beberapa wanita justru merasa bangga meskipun mereka sudah tidak perawan lagi. Kondisi seperti ini menjadi cermin kalau generasi bangsa sudah mulai rusak. Tapi dibalik fenomena keperawanan, ada survey yang menunjukkan kalau beberapa wanita menganggap keperawanan harus dijaga sebelum mereka menikah.

Maraknya Pergaulan Bebas di Masyarakat Modern

Korban seks dan pergaulan bebas adalah dari sisi wanitanya. Setelah melakukan seks bebas, wanita kehilangan keperawanan sedangkan pria tidak kehilangan apapun. Bagi wanita, penting diketahui beberapa alasan penting guna tetap menjaga keperawanan sebelum menikah. Alasan pertama adalah pemahaman tentang kebutuhan seks. Jika dilakukan sebelum menikah, seks hanya menjadi wujud pelampiasan nafsu saja. Banyak pria yang mengancam kekasihnya jika tidak mau melayani dalam urusan seks. Mereka biasanya membujuk dengan kata-kata kalau seks adalah wujud dari rasa cinta atau sayang. Jika sang wanita tetap tidak mau, sang pria biasanya akan mengancam untuk meninggalkannya.

Wanita dan Masalah Keperawanan di Era Modern

Wanita sering dijadikan sebagai pemuas kebutuhan biologis. Karena itulah wanita perlu untuk memperhatikan arti sebenarnya dari kebutuhan seksual. Alasan kedua kenapa wanita harus mempertahankan keperawanan sebelum menikah adalah untuk menjaga nama baik diri sendiri dan juga keluarga. Seorang pria bisa saja merenggut keperawanan sang kekasih dan membanggakan diri pada teman-teman. Tapi justru hal tersebut menjadi bahan pembicaraan buruk bagi pihak wanita dan bakal merusak nama baik serta keluarga mereka. Tak bisa dipungkiri pada akhirnya wanita mendapatkan cemooh dan juga dikucilkan oleh teman dan juga keluarga.

Alasan berikutnya adalah tentang aspek kecanduan dari seks diluar nikah. Seks adalah hal yang menyenangkan serta bisa membuat seseorang menjadi kecanduan. Bila seks dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah, tentu saja tak jadi masalah sama sekali. Permasalahan muncul ketika kegiatan seks dilakukan oleh pasangan yang belum resmi menikah sama sekali. Kecanduan seks akan menyita waktu, tenaga, dan kesehatan. Tentu saja efeknya lebih buruk jika dilakukan oleh pasangan yang belum resmi menikah. Mereka bisa mendapatkan banyak masalah nantinya.

Selanjutnya adalah seputar rasa bersalah. Kebudayaan Timur tentu saja amat menjunjung tinggi tentang agama dan juga tatanan norma di masyarakat. Keperawanan adalah hal sakral bagi seorang wanita. Masyarakat memiliki aturan keras dan melarang pasangan untuk melakukan kegiatan seks sebelum mereka menikah. Jika dilanggar, maka mereka seringkali terlibat rasa berasalah yang mendalam dan pada akhirnya menyesali perbuatan tadi selama bertahun-tahun. Belum lagi jika terjadi kehamilan dari perbuatan melanggar norma tadi. Pasangan bakal mendapatkan rasa bersalah yang berkali-kali lipat. Semua masyarakat Timur pasti amat awas terhadap fenomena seks bebas.

Alasan selanjutnya tidak lain adalah berkaitan dengan kekecewaan sang suami. Malam pertama akan terasa hambar bila wanita sudah tidak perawan lagi. Suami bisa merasakan kekecewaan bahkan pada akhirnya akan menggugat cerai. Kondisi ini bakal menjadi kerugian bagi semua wanita. Bulan madu juga bakal kehilangan kesakralan bila sang istri sudah tidak perawan ketika melakukan hubungan pertama kali dengan sang suami. Permasalahan yang timbul dari sisi psikologis wanita yang sudah kehilangan keperawanan sebelum menikah tentu saja amat tinggi. Wanita adalah pihak yang justru dirugikan karena kehilangan keperawanan sebelum menikah. 

Baca juga:
Selaput darah dan keperawanan
tips sehat anak bayi dan balita