Perencanaan Kehamilan dengan Terapi Hormon

suntik hormon
Permasalahan pasangan yang sulit mendapat momongan bisa disebabkan oleh banyak factor, mulai dari stress, penyakit, hingga gangguan hormon. Jika penyebabnya karena gangguan hormon, maka cara mengatasinya adalah dengan menjalankan program hamil dengan terapi hormon setelah pasangan suami istri berkonsultasi pada dokter kandungan. Berdasarkan data yang dilansir dari Fertilityfact, 40 persen ketidaksuburan dialami oleh perempuan, 40 persen oleh laki-laki dan 20 persen karena factor keduanya.

Perkembangan dan terobosan di dunia medis telah menemukan solusinya dengan terapi hormon yang bisa dijalankan oleh pasangan yang mengidap gangguan hormon maupun pasangan yang berencana menjalani program inseminasi atau bayi tabung. Pada pria, terapi hormon dilakukan jika sperma pria tersebut dinyatakan abnormal. Sedangkan pada wanita, terapi hormon dilakukan jika tidak terjadi ovulasi.

Menurut dr.Tri Bowo Hasmoro, androlog dari RSIA Hermina Jatinegara, masalah infertilitas bisa dialami oleh kedua pihak dari pasangan sehingga terapi hormon dilakukan sebagai upaya mengatasi infertilitas. Misalnya jika hormon yang menghasilkan FSH (Follicle Stimulating Hormon)  dan LH (Luteinezing Hormon) di dalam tubuh kurang sehingga memperngaruhi jumlah sperma pada pria dan menyebabkan gangguan ovulasi pada wanita.

Prinsip Kerja Program Hamil dengan Terapi Hormon

Beberapa hormon yang terkait dengan fungsi kesuburan pada pria dan wanita diantaranya:
1.    LH (Luteinezing Hormon), yaitu hormon yang mengatur ovulasi pada wanita.
2.    FSH (Follicle Stimulating Hormon), yaitu hormon yang membantu pembentukan estrogen
3.    Hormon estrogen yang diproduksi di dalam indung telur, plasenta dan ginjal kecil sebagai indikasi kesuburan wanita
4.    Hormon tiroid, yaitu hormon yang merangsang pematangan indung telur. Kekurangan hormon ini akan menyebabkan metabolisme tubuh terganggu
5.    Hormon progesterone, yaitu hormon pelindung kehamilan

Jika hormon-hormon di atas terindikasi mengalami gangguan, maka dokter kandungan akan menambahkan hormon dari luar sebagai upaya program hamil dengan terapi hormon. Berikut cara kerjanya:
1.    Pasien diberi antihormon estrogen sebagai pemicu keluarnya FSH. Obat diberikan pada hari ke 4,5,6 pada siklus haid selama enam kali siklus haid. Dosis obat dapat ditingkatkan sesuai hasil terapi. Cara ini dilakukan sebagai upaya pemicu kesuburan.
2.    Bila setelah enam kali siklus haid belum ada hasilnya, maka pasien diberi suntikan terapi hormon pada hari keenam sampai hari kesepuluh siklus haid.
3.    Jika kedua langkah tersebut belum berhasil, maka akan dilakukan manipulasi hormon dengan penyuntikan hormon GnRH (Gonadotropin-Releasing Hormon) untuk merangsang keluarnya FSH dan LH.

Pemeriksaan Menyeluruh Bagi Pasangan

Sebelum melakukan terapi hormon, pasangan harus menjalani serangkaian tahap pemeriksaan apakah penyebab ketidakssuburannya dikarenakan oleh adanya gangguan hormon dalam tubuh pihak pria dan wanita. Misalnya pada pria, jumlah sperma yang normal adalah 2-5 ml atau 40-100 juta sperma dengan pH 7-8, kekentalan normal, berwarna putih, memiliki kepala dan ekor serta mampu bergerak lincah. Jika jumlahnya kurang, akan dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui normal tidaknya bentuk sperma. Sedangkan pada wanita akan diperiksa apakah siklus haidnya mengeluarkan telur atau tidak. Suntikan terapi hormon pada pria dapat dilakukan kapan saja dan lebih fleksibel.

Umumnya suntikan terapi hormon pada pria dilakukan dua hari sekali dengan masa kerja 3-7 hari. Sehingga dalam jangka waktu tersebut, pasangan tidak diperkenankan berhubungan intim. Selanjutnya, dokter akan memantau perkembangan dari terapi suntikan hormon melalui pemeriksaan sperma dan pemeriksaan hormon setelah terapi.

Beberapa pasangan memilih melanjutkan ke program bayi tabung setelah melakukan terapi hormon. Dokter andrologi menyarankan sebaiknya terapi dilakukan sedini mungkin dan jangan menunda-nunda. Sebab, di usia muda pasangan masih memiliki sel tubuh yang bagus sehingga memudahkan lancarnya program hamil ini, yaitu di usia 30-40 tahun. Jika setelah setahun menikah pasangan suami istri melakukan hubungan secara teratur, siklus haid sang istri tidak bermasalah dan tidak mengenakan alat kontrasepsi tetapi belum kunjung hamil, sebaiknya langsung berkonsultasi dengan dokter ahli.
tips sehat anak bayi dan balita

Informasi tentang tips cepat hamil atau program kehamilan yang lengkap, tepat dan efektif. Buku panduan cara cepat hamil, silakan klik website ini: infotipshamil.com

buku tips hamil