Mengenal Tanda-tanda Menjelang Melahirkan

tanda tanda mau melahirkan
Sakit perut atau rasa mules  seringkali disamakan dengan tanda-tanda melahirkan, namun setiap rasa sakit dan mules yang menimpa seorang wanita yang sudah hamil besar belum tentu langsung menandakan bahwa ia akan melahirkan. Akan tetapi, jika sudah ada rasa sakit bercampur kaku plus mules seperti hendak buang air, apalagi kalau sudah ada kucuran air ketuban serta semacam lendir kemerahan (vaginal discharge) keluar, biasanya proses kelahiran sudah dekat.

Jika Anda tidak punya pengetahuan tentang ini, Anda akan mudah merasa tegang dan panik ketika sensasi tersebut akhirnya datang. Ketahuilah apa yang akan terjadi ketika rasa sakit datang dan pahami persiapan apa yang harus Anda lakukan.

Tahap Pertama: Kontraksi

Dalam persalinan normal, nyeri kontraksi biasanya datang pada minggu ke-38 sampai ke-40, dimana kebanyakan wanita hamil mulai merasakan sensasi sakit yang datang dan pergi disertai rasa kaku atau mules. Banyak wanita hamil yang merasakan sensasi sakit tajam datang untuk pertama kalinya, lalu disusul rasa yang sama sejam kemudian, sebelum frekuensinya lama-lama semakin meningkat, misalnya selang 30 menit sekali lalu akhirnya 15 menit sekali. Saat menjelang bayi lahir, biasanya jarak kontraksi sangat dekat, hanya 1-2 menit.

Semakin mendekati proses melahirkan, rasa sakit yang merupakan tanda-tanda melahirkan juga akan semakin menyebar, mulai dari perut atas, lalu ke bawah, lalu ke bagian pinggang belakang dan punggung bawah. Di masa-masa awal kontraksi, sebaiknya Anda jangan panik. Mumpung jarak kontraksi masih jauh, lakukan persiapan dengan mengabari suami atau anggota keluarga lain, lalu bersiaplah untuk pergi ke rumah sakit. Anda bisa berjalan-jalan seputar tempat tidur jika mau untuk mengurangi ketegangan dan melancarkan persalinan.

Silakan baca juga : Kontraksi rahim selama kehamilan

Tahap Kedua: Pembukaan

Setelah tahap pertama berjalan lancar, proses kelahiran mulai masuk ke tahap pembukaan. Istilah pembukaan mengacu pada proses melebarnya mulut rahim untuk memberi jalan bagi bayi yang akan dilahirkan. Hal ini dipicu secara alami oleh pengerutan otot rahim yang mengakibatkan bayi secara otomatis perlahan terdorong ke bawah, ke arah mulut rahim. Pembukaan terjadi secara bertahap dan biasanya disertai dengan keluarnya semacam lendir kemerahan yang tadinya berada di mulut rahim.

Jika Anda sering mendengar istilah pembukaan 1, pembukaan 2 dan seterusnya, itu mengacu pada ukuran melebarnya mulut rahim sampai terbuka sempurna (1 sentimeter, 2 sentimeter dan seterusnya), yang merupakan tanda-tanda melahirkan berikutnya. Pembukaan ini diawasi oleh dokter atau bidan, dan Anda sebaiknya mengikuti apa yang dikatakan oleh dokter atau bidan untuk mengantisipasi tiap tahap pembukaan.

Berikut beberapa tahap pembukaan dalam kelahiran sampai mulut rahim terbuka sempurna:


  • Pembukaan 1-2: biasanya berlangsung selama 24 hingga 48 jam pertama. Biasanya, pada saat ini, Anda dianjurkan oleh dokter untuk tidak mengejan, setidaknya sampai pembukaan 1 selesai. Hal ini karena mengejan pada saat ini dianggap masih terlalu dini sehingga Anda bisa mengalami pendarahan lantaran mulut rahim masih terlalu sempit. Caranya dengan bernapas dalam-dalam sambil berkonsentrasi pada sesuatu, misalnya pada suami atau pendamping Anda.
  • Pembukaan 3-10: biasanya berlangsung agak lama jika Anda melahirkan untuk yang pertama kali, bisa mencapai 7-8 jam. Akan tetapi, untuk anak kedua dan berikutnya biasanya lebih mudah, mungkin hanya 3-4 jam.
  • Pembukaan 10: ini merupakan yang terakhir dari keseluruhan proses pembukaan. Di sini, barulah Anda akan disuruh mengejan sekuat tenaga. Setelah pembukaan 10, biasanya mulut rahim sudah terbuka sempurna dan Anda siap melalui tahap berikutnya.

Tahap Ketiga: Persalinan Tahap Akhir

Jika semuanya berjalan lancar, Anda sudah akan siap melahirkan pada tahap ini, dimana kepala bayi sudah siap keluar dari mulut rahim yang telah membuka sempurna. Komplikasi yang diakibatkan belitan tali pusar, posisi sungsang atau kelainan pinggul ibu bisa memperlambat proses persalinan, namun jika kepala bayi sudah dalam keadaan siap keluar, biasanya prosesnya tak akan lama, mungkin antara 30 menit hingga sejam (atau malah bisa kurang).

Tanda-tanda melahirkan yang muncul pada tahap akhir ini adalah:


  • Ada tekanan kuat di bagian bawah tubuh, di antara vagina dan anus (perineum); ini tanda bayi sudah siap mendesak keluar.
  • Air ketuban membasahi vagina dan ada lendir kemerahan keluar; ini berfungsi sebagai pelumas jalan lahir alami.
  • Dokter atau bidan mulai melihat pucuk kepala bayi; saat ini, Anda harus berusaha untuk mengejan (jika tidak sanggup biasanya dibantu dengan semacam obat untuk membantu mengejan).

Dalam tahap ini, Anda akan dituntun untuk menarik dan menghembuskan napas secara teratur, dan mengejan setiap kali kontraksi terjadi agar bayi lancar keluar. Dalam persalinan yang lancar, gerakan keluarnya kepala bayi akan otomatis memutar tubuhnya, mengakibatkan posisi bayi menjadi tertata secara alami dan lahir dengan mudah.

Akhirnya, setelah persalinan selesai, Anda pun tinggal mengeluarkan plasenta. Plasenta akan keluar dengan sendirinya karena kontraksi yang memberikan tanda yang sama dengan tanda-tanda melahirkan, namun tidak terlalu intens. Bidan atau dokter biasanya juga akan membantu proses ini dengan cara menekan perut secara lembut sambil menarik plasenta keluar. Prosesnya cukup cepat, biasanya tak sampai 20 menit. Anda pun kini telah menjadi seorang ibu!

Tips Melahirkan Anak Kedua


Orang bilang melahirkan anak kedua, ketiga, dan seterusnya itu sudah tak setegang melahirkan anak pertama. Katanya, melahirkan anak kedua bisa lebih santai. Tapi mengapa bisa demikian?

Nah, berikut beberapa perbedaan  kehamilan pertama dan kedua yang terjadi pada ibu hamil

1. Masa kehamilan terasa lebih singkat

Seringkali wanita yang mengalami kehamilan kedua merasakan masa-masa mengandung seakan lebih singkat daripada hamil pertama. Hal ini dikarenakan ibu hamil seringkali sibuk merawat  anak pertama, sehingga keluhan pada kehamilan kedua jarang dirasakan. Selain itu, kondisi ini bukanlah kali pertamanya bagi ibu, jadi tak ada lagi rasa deg-deg’an berlebihan. Ibu lebih relaks dan masa kehamilan 9 bulan seolah-olah tak terasa.

2. Tanda-tanda perubahan fisik lebih cepat

Selain masanya yang terasa lebih singkat, umumnya perubahan fisik pada kehamilan kedua juga lebih cepat muncul. Kondisi ini juga dipengaruhi faktor usia. Semakin tua usia ibu hamil, biasanya lebih sering merasakan keluhan dan perubahan fisik.
Adanya perubahan fisik yang lebih cepat sering disertai risiko kenaikan berat badan lebih besar, risiko varises lebih tinggi, serta frekuensi sakit pinggang yang lebih sering terjadi.

3. Pergerakan bayi dalam perut lebih cepat dirasakan

Umumnya pada kehamilan kedua, ibu akan merasakan pergerakan bayi yang lebih cepat dibandingkan kehamilan pertama. Apabila sang ibu ngerasain tendangan di bulan ke-5 pada kehamilan pertama, maka di kehamilan kedua sudah terasa pada bulan ke-4. Kondisi ini dipengaruhi sensitifitas ibu yang menjadi lebih peka setelah pengalaman pertama.

4. Mental lebih siap dalam proses persalinan

Setelah mengalami proses persalinan pertama, biasanya untuk persalinan hamil kedua, mental ibu jadi lebih siap dan lebih mudah mengatasi situasi traumatik.
Apabila di pengalaman pertama ada kesulitan, ibu bisa menjadikannya sebagai pengalaman dan berusaha menghindari hal yang tidak baik tersebut pada kehamilan kedua.

Nah, setelah mengetahui perbedaan kehamilan pertama dan kedua, sekarang kami akan membahas seputar mitos-mitos kehamilan kedua. Berikut ulasannya!

Mitos - Fakta Kehamilan kedua


1. Mitos pertama: jika kehamilan pertama caesar, maka kedua juga caesar
Banyak orang bilang kalau melahirkan si sulung lewat caesar, maka generasi berikutnya juga bakal caesar. Kenyataannya tidak demikian!

Fakta: Sebuah progam persalinan bernama VBAC (Vaginal Birth After Caesaria) memungkinkan wanita yang pernah caesar untuk melahirkan normal di persalinan keduanya. Namun ada syarat yang harus diperhatikan, yaitu jarak kelahiran anak pertama dengan kehamilan kedua minimal sekitar 18 bulan. Selain itu, kondisi fisik ibu hamil yang sehat tanpa masalah juga memperbesar peluang melahirkan secara normal.

2. Mitos kedua:  jarak melahirkan anak pertama dan kedua yang terlalu dekat menyebabkan bayi lahir prematur
Mitos yang kedua ini sebenarnya dibenarkan secara medis, tapi kenyataannya beberapa orang yang melahirkan dalam jarak cukup dekat (misalnya 17 bulan), bayi terlahir sehat dan tidak prematur (Pengalaman pribadi nih, bayi saya terlahir sehat dengan berat badan 2,7 kg). Tapi meski demikian hal ini tidak baik karena pemberian ASI pada anak pertama terpaksa harus diberhentikan.

Fakta: Secara medis dijelaskan bahwa jarak kehamilan yang terlalu dekat membuat kondisi sang ibu menjadi down dan mengalami stres. Hal inilah yang kemudian memicu bayi lahir prematur, ataupun lahir dengan berat badan yang cukup rendah. Perlu diketahui bahwa jarak kehamilan kedua yang aman, yaitu sekitar 24 atau sampai 35 bulan setelah persalinan pertama.

3. Mitos ketiga: kehamilan kedua biasanya lebih mudah dan cepat
Mitos yang terakhir ini kebenarannya dapat dijelaskan secara logis.

Fakta: Seperti yang sudah dijelaskan di atas (poin pertama-perbedaan kehamilan pertama dan kedua), kebanyakan wanita memang merasakan kehamilan kedua lebih mudah. Hal ini berkaitan dengan proses persalinan. Karena si ibu sudah pernah melahirkan anak pertama, maka vagina dan panggulnya menjadi lebih lentur. Selain itu, leher rahim juga menjadi lebih lebar. Kondisi ini membantu proses persalinan lebih cepat dan mudah.

Jika rata-rata persalinan pertama membutuhkan waktu 12-14 jam untuk pembukaan hingga lahir. Namun, dalam kehamilan kedua hanya membutuhkan sekitar 8 jam saja. Oiya, kontraksi yang lebih cepat ini juga menimbulkan beberapa keluhan, seperti nyeri, gemetar, dan syok. Apabila ibu mengalami hal ini, maka bersegeralah menuju rumah sakit untuk memperoleh pertolongan.

tips sehat anak bayi dan balita