Memahami Seluk-beluk Kehamilan Beresiko Tinggi

Salah satu hal yang paling ditakuti oleh wanita hamil adalah jika mereka mengalami kehamilan beresiko tinggi. Secara umum, kondisi ini dideskripsikan sebagai kehamilan yang membawa resiko kesehatan atau kematian bagi ibu dan/atau bayi karena berbagai penyebab. Walaupun ilmu kebidanan dan kedokteran saat ini sudah semakin maju, tetap saja ada banyak kondisi dan faktor resiko yang bisa menyebabkan seorang wanita mengalami kehamilan yang beresiko.

Dampak Kehamilan Beresiko

Memahami Seluk-beluk Kehamilan Beresiko Tinggi
Kehamilan beresiko bisa menyebabkan berbagai macam kondisi yang membahayakan nyawa ibu maupun bayi. Bagi sang ibu, resikonya bisa berupa persalinan prematur, pendarahan yang cukup parah saat bersalin plus pemulihan yang lama (jika sang ibu selamat), keracunan pada saat persalinan yang bisa menimbulkan komplikasi dan kejang pada ibu, hingga kematian. Sedangkan bagi si bayi, tentu akibatnya bisa berupa kematian atau gangguan yang menyebabkan kondisi fisik permanen.

Hal ini tentu saja merupakan sesuatu yang sangat ditakutkan oleh para ibu hamil dan keluarga mereka, sehingga langkah-langkah pencegahan perlu dilakukan untuk mencegah hal ini. Plus, sang wanita hamil dan suami juga harus berkonsultasi dengan dokter serta mengadopsi gaya hidup sehat demi kesehatan ibu dan anak.

Faktor Penyebab Kehamilan Beresiko

Apa saja yang menjadi faktor penyebab kehamilan berisiko? Berikut beberapa di antaranya:

·         Usia seorang ibu yg terlalu tua ataupun terlalu muda; kehamilan remaja atau kehamilan pada wanita berusia di atas 35 tahun merupakan jenis kehamilan yang beresiko.
·         Kondisi ibu yang kurang makan makanan bergizi atau memiliki kebiasaan buruk seperti merokok, minum minuman keras dan bahkan mengonsumsi obat sembarangan bisa menimbulkan resiko kehamilan dan persalinan.
·         Kondisi fisik tertentu seperti tubuh yang terlalu pendek (di bawah 145 sentimeter), terlalu gemuk atau kurus, kondisi mulut rahim atau tulang panggul yang rapuh, penyakit berat atau kronis macam diabetes, jantung dan stroke serta serangan virus, bakteri atau keracunan logam berat seperti merkuri.
·         Kondisi dalam rahim sebagai posisi plasenta yang terlalu rendah atau yang sedemikian rupa sehingga menutupi mulut rahim.
·         Bayi yang ukurannya terlalu besar atau mengalami kelainan bawaan tertentu yang tak terdeteksi saat si bayi belum lahir.
·         Munculnya kondisi yang biasa dialami wanita hamil namun dapat beresiko bila tak dikendalikan, seperti kenaikan kadar gula darah, gangguan ginjal, darah tinggi dan sebagainya.
·         Sang ibu pernah keguguran 3 kali, pernah melahirkan bayi prematur lebih dari 2 kali atau malah tidak hamil dalam waktu yang lama, biasanya lebih dari 5 tahun.
·         Jarak kelahiran antara bayi yang satu dan yang lain terlalu dekat, misalnya kurang dari 2 tahun.

Semua faktor resiko ini berpotensi membahayakan kesehatan sang ibu maupun janin sehingga patut menjadi perhatian semua pihak.

Cara Mencegah Kehamilan Beresiko

Wanita hamil dan keluarga serta pasangan harus bekerjasama untuk mengurangi kemungkinan kehamilan beresiko. Sang wanita harus makan makanan bergizi, bisa mengatur waktu sehingga tidak stres atau kurang tidur, tidak merokok atau minum minuman keras dan rajin berkonsultasi dengan dokter. Sang suami juga sebaiknya menahan diri agar tidak merokok di depan istri dan rajin membantu menjaga kondisi istri agar jangan sampai lelah, sakit atau terinfeksi sesuatu.

Suami istri juga hendaknya bersepakat untuk mengatur jarak lahir jika ingin memiliki anak lebih dari satu. Jika ingin hamil, hendaknya jangan ketika usia sudah di atas 35 tahun untuk menghindari "kehamilan beresiko" ini.

Baca juga: 
tips sehat anak bayi dan balita